Siapa suruh datang Jakarta

Setiap bertegur sapa dengan kawan lama dan ditanya sekarang tinggal dimana, biasanya kejadian ini diikuti oleh perasaan sedih yang hadir begitu saja di hati saya.

“Jakarta? Ya ampun nggolek opo kowe neng kono?” (Jakarta? Ya ampun mau cari apa kamu di situ)

hiks..hiks.. ya jelas cari makan to mbakyu..?

“Wah nek aku yo pilih tunggu brok. Urip neng kampung genah kepenak..” (Wah kalau saya lebih baik tinggal di kampung halaman. Lebih enak)
Lha trus kalau suami ada di sini, dan saya di kampung, kalo ntar digondol maling gimana to mbakyu.. lak yo kelangan saya.?

Pokoknya banyak momen-momen yang membuat saya berfikir mundur. Iya ya, ngapaiiiin juga saya terdampar di sini. Meninggalkan kampung yang sudah menyatu dengan jiwa saya.

Ingat ketika pertama kali tiba di Jakarta. Waktu itu bersama suami (dalam keadaan masih jadi pengantin baru) dalam perjalanan dari Stasiun Jatinegara menuju Pasar Minggu.

Saat taksi yang kami tumpangi berbelok ke sebuah gang sempiiit, dan di sanalah tempat kami ngontrak, hati saya langsung terkesiap. Kaget.

“Jadi uang 10 juta setahun cuma dapet kontrakan kaya gini, Mas?”

Sedangkan di kampung saya kala itu uang 5 juta saja sudah dapat kontrakan yang jauuuh lebih layak dari itu.

“Ini Jakarta bro..”

Ini jakarta. Cukup itu jawaban suami. Dan entah kenapa jawaban ini mengiris-iris hati saya sedemikian rupa.

Dasarnya saya ini nDeso. Hari-hari selanjutnya hanya berisi kekagetan demi kekagetan. Ketidaksiapan serta ketakutan.kota jakarta indonesia

Ternyata orang Jakarta itu hobby banget main klakson. Di jalan raya, yang saya dengar hanya bising klakson, jarak masih jauh pun udah main klakson. Dan din dan din..diiiiiiiiin……

Belum jalanannya yang bercabang-cabang. Sekalinya salah jalan, ngga bisa seenaknya cari puteran.

Populasi angkot juga berlimpah ruah. Jalan zig zag, berhenti semaunya, parkir seenaknya.

Ya Allah gusti… jadi ini yang namanya Jakarta?

Urusan beli sayur dan makan juga bikin hati meratap. Mak.. anakmu ini bener-bener kangeeen ramban daun keningkir dan nyabut singkong di kebon mbah buyut. Di sini singkong sepotong aja dua ribu mak.. ?

Tapi….
Jika saya terus meratapi ini, sama saja dengan tidak bersyukur. Sudah saya niati hijrah ke sini demi mengikuti suami. Demi membangun keluarga. Masa iya cuma gara-gara suara klakson sama kangen sayur trancam aja harus membuat saya surut.

bca juga: http://www.sukaon.id/

Lambat laun keresahan makin menggurita, setelah kami pindah ke Selatan Jakarta yang aduhai indahnya.

Saya yang tidak punya siapa-siapa di sini, sering menangis sedih saat suami berangkat ba’da Shubuh saat saya sebenarnya butuh sekali dibantu. Kenapa harus Shubuh? Karena perjalanan menuju kantornya di Jakarta Pusat minimal 2 jam. Pernah sampai 4 jam jika jalanan sedang murka.

Mbok ya naik motor? Ngga kuat sis.. pernah naik motor seminggu. Udahannya masuk angin mual muntah pinggang terkilir. LOL. Akhirnya bis pun jadi transportasi idaman.

Saya juga sedih saat anak-anak usai Maghrib ribut bertanya: “Kenapa ayah nggak pulang-pulang? tadi janji mau pulang jam 6?”

Mereka tidak tahu aturan tidak tertulis di Jakarta: Jangan bikin janji seenaknya. Ada angkot ngetem aja bisa bikin janjimu melambat dua jam. Ingat ini Jakarta.

Kami bahagia. Tapi sesekali kami pun merasa tidak baik-baik saja.

Fase-fase perenungan tingkat tinggi, serta diskusi maha berat soal:
“Yakin nih mau selamanya tinggal di kota ini?”
“Kita pulang kampung aja yuk? Kerja sebisanya di sana..”

Membuat kami galau. Galaunya beneran. Benar-benar galau.

Hingga saya sadari satu hal. Bahwa rasa kangen kampung halaman, keinginan pulang lalu diiringi penyesalan memilih hidup di kota ini, lama-lama membuat hidup kami tidak berkualitas.

Lesu. Tidak ada semangat. Memandang hidup jadi serba canggung.

Saya lupa bahwa hidup adalah perjuangan, bukan asik dengan penyesalan. Saya fokus dengan kebisingan di kota ini, lalu lupa mensyukuri rezeki yang kami dapatkan di sini. Saya selalu melihat Jakarta dengan ngeri. Padahal di sini pun kami sering melihat pelangi.

Akhirnya lambat laun saya bisa juga bersahabat dengan kota ini.

Suami yang dulu sering mengeluh soal waktunya yang sia-sia di jalan, sudah hampir tidak pernah lagi bicara soal itu. Kami sama-sama menjalani, berusaha menikmati dengan cara kami sendiri. Dan sejauh ini kami berhasil, setidaknya tidak segera bilang “pulang kampung aja yok” saat terbentur kerumitan di kota ini.

Siapa suruh datang Jakarta?

Ya memang tidak ada yang nyuruh. Karena tidak ada yang nyuruh dan saya dengan senang hati hijrah ke kota ini, maka lucu jika saya terus menerus mengutuk hidup. Lha wong ke jakarta sak karepe dewe alias atas inisiatif sendiri kok.

Untuk kawan-kawan sesama perantau, cinta kampung semoga tidak menjadikan hidup kita dirundung galau. Bisa jadi jika saat ini kita masih berada di kampung, hidup kita tidak akan se bahagia ini.

Kampung dan segala keindahannya memang sudah cukup untuk kita.

Tapi kita merantau bukan karena merasa tidak cukup. Kita merantau karena hidup memang tak pernah cukup dengan satu adegan cerita ?

Salam hangat dari perantauan,

source: Wulan Darmanto